(pict. credit to google.com)Sunday, October 2, 2011
Dark Chocolate
(pict. credit to google.com)Saturday, October 1, 2011
Galau
Friday, April 22, 2011
Perspective (Mata Kita)
(I love the caption in this picture. Picture from to http://espn.go.com)Mata Bening
Sunday, March 13, 2011
Letter

To Whom That May Concern
Engkau…..
Tidak terang
Tidak tampak terlalu jelas
Tidak dapat dilihat dengan kasat mata
Hey pangeran berkuda putih,
Apa kabarnya? Aku sedang berusaha mendeskripsikanmu. Tapi hanya 3 kalimat itu yang keluar. Terlalu buram untuk dijelaskan dengan kata-kata. Terlalu samar.
Hey pangeran berkuda putih,
Pasti kamu sedang menikmati hari-harimu, akupun begitu. Kamu dengan cita-citamu, kamu dengan impianmu, kamu dengan segala ambisimu. Tetaplah begitu sampai saat yang tepat nanti. Karena akupun sedang merajut mimpiku.
Untuk saat ini biarlah aku menjadi aku, dan kamu menjadi kamu, mungkin belum saatnya ada ‘kita’.
Hey pangeran berkuda putih,
Datanglah bila sudah tepat saatnya nanti. Tidak apa-apa kamu tidak menaiki kuda putihmu. Tidak apa-apa kamu tidak mengenakan jubah pangeranmu. Bahkan tidak apa-apa kalau kamu ternyata bukan seorang pangeran. Yang aku tahu bila kau datang di saat yang tepat nanti, kamu dan aku akan jadi kita dengan segala mimpi-mimpi kita di dalamnya.
Hey orang yang akan bersamaku di masa depan,
Jangan datang terlalu lama. Kamu tahu, aku menunggumu. J
Sincerely,
ANS
(09/03/2011)
Thursday, January 6, 2011
Flying

Saya orang bodoh
Friday, December 31, 2010
Hey Backstabber!

Tuesday, November 23, 2010
Grown up
(photo from google image)
Orang-orang berkata saya sudah cukup dewasa
Saya berfikir "Wow saya tidak seperti mereka berarti saya memang sudah dewasa"
Lalu saya dihadapkan pada tulisan di tv dan bioskop 21+ = dewasa
Saya sudah mencapai angka itu "Ternyata saya memang sudah dewasa"
Maka mantaplah saya "Ya saya dewasa"
Lalu datanglah dia.
Dia datang menghampiri saya
Lalu saya berfikir
Lalu saya mencari jalan keluar
Lalu saya bertindak semampu saya
Lalu dia menjadi semakin besar
Lalu dia menjadi runyam
Lalu saya menangis
dan...
Sekarang saya mulai berfikir "Saya memang belum terlalu dewasa"
Begitu saja menagis.
Seperti anak kecil saja.
Lalu sekarang saya sedang berfikir.
Berfikir ketika dia datang lagi, saya tidak akan menangis
Ketika dia datang lagi saya sudah punya rencana
Ketika dia datang lagi saya dapat menyelesaikannya
Ketika dia datang lagi saya akan menertawakannya dan berkata
"Masalah, ternyata segitu saja kemampuanmu. Saya sudah dewasa, saya tidak akan kalah denganmu".
Semoga saya cepat sampai ke masa itu.
Amin.
Saturday, November 13, 2010
Nano-nano
Departement Seni Budaya

Wednesday, October 13, 2010
Thank You

Thursday, October 7, 2010
Dua
This is the continuance of my pink letter in the previous post. This is an answer that I made by myself for myself for what I felt.
Surat Kedua untuk Satu
Menoleh kebelakang, melihat kenangan. Melihat serpihan-serpihan perasaan yang dulu pernah datang. Ternyata tulisan bisa menjadi cermin. Cermin untuk melihat seperti apa kita dahulu. Disini aku berbicara mengenai Satu. Melihat tulisan merah jambuku untuk Satu waktu dahulu, membuatku tersenyum. Bukan tersenyum malu seperti dulu. Tapi tersenyum karena lucu. Lalu tersenyum kecut melihat kenyataan. Begitu hebat sang waktu memainkan perannya.
Dahulu aku tersenyum malu untuk Satu. Ralat, bukan dahulu tapi beberapa waktu yang lalu. Sekarang aku tersenyum kelu untuk Satu. Bukan waktu yang menghilangkan rasa ini untuk Satu, tapi waktu yang berjalan memaparkan realita ke depan mataku akan siapa Satu sebenarnya. Kalau boleh aku memohon pada waktu agar menarik kembali ingatanku dan mengembalikan Satu yang dulu, yang tanpa cela. Tapi tentu tidak boleh kan?
Satu masih tetap menarik dengan caranya sendiri.Rasa yang dulu ada untuk Satu sekarangpun masih ada. Tapi aku tahu, aku tidak akan menyimpannya terlalu lama.
Cukuplah selesai sudah rasa ini untuk Satu.
Satu, dulu aku menantimu. Melihat kearahmu.
Satu jangan buat aku menoleh padamu lagi ya!
BYE.
