This is the continuance of my pink letter in the previous post. This is an answer that I made by myself for myself for what I felt.
Surat Kedua untuk Satu
Menoleh kebelakang, melihat kenangan. Melihat serpihan-serpihan perasaan yang dulu pernah datang. Ternyata tulisan bisa menjadi cermin. Cermin untuk melihat seperti apa kita dahulu. Disini aku berbicara mengenai Satu. Melihat tulisan merah jambuku untuk Satu waktu dahulu, membuatku tersenyum. Bukan tersenyum malu seperti dulu. Tapi tersenyum karena lucu. Lalu tersenyum kecut melihat kenyataan. Begitu hebat sang waktu memainkan perannya.
Dahulu aku tersenyum malu untuk Satu. Ralat, bukan dahulu tapi beberapa waktu yang lalu. Sekarang aku tersenyum kelu untuk Satu. Bukan waktu yang menghilangkan rasa ini untuk Satu, tapi waktu yang berjalan memaparkan realita ke depan mataku akan siapa Satu sebenarnya. Kalau boleh aku memohon pada waktu agar menarik kembali ingatanku dan mengembalikan Satu yang dulu, yang tanpa cela. Tapi tentu tidak boleh kan?
Satu masih tetap menarik dengan caranya sendiri.Rasa yang dulu ada untuk Satu sekarangpun masih ada. Tapi aku tahu, aku tidak akan menyimpannya terlalu lama.
Cukuplah selesai sudah rasa ini untuk Satu.
Satu, dulu aku menantimu. Melihat kearahmu.
Satu jangan buat aku menoleh padamu lagi ya!
BYE.


